Kalau kita menilik asal katanya, ‘Pecinta’ artinya
orang yang mencintai, dan alam dapat diartikan segala sesuatu yang ada di
sekitar kita. Kalau kita perjelas lagi, alam berarti segalanya, baik benda
hidup maupun benda tak hidup, yang ada di dunia ini. Udara, tanah, dan air
merupakan bagian dari alam yang membantu kelangsungan hidup kita. Demikian pula
dengan tanaman, hewan, dan manusia, mereka termasuk bagian dari alam ini.
Keberadaan mereka satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Jadi, jelas bahwa
diri kita masing-masing pun merupakan bagian dari alam semesta ini. Lalu
dapatkah kita mengatakan bahwa Pecinta Alam adalah orang yang mencintai alam
semesta beserta isinya, termasuk dirinya sendiri. Bagaimana pula dengan mereka
yang memiliki hobby bertualang di alam bebas? Dapatkah mereka kita sebut
Pecinta Alam? Tampaknya memang ada kerancuan makna dalam istilah “Pecinta Alam”
tersebut: antara mereka yang mencintai alam (lingkungan) dengan mereka yang
gemar berpetualang di alam bebas. Sebagai pembanding, di Eropa dan Amerika ada
suatu terminologi yang jelas bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia
kepecintaalaman, misalnya envi-ronmentalist (pecinta lingkungan hidup: Green
Peace), naturlist (pecinta alam seperti sebagaimana adanya), adventure
(petualangan/penjelajah), mountaineers (pendaki gunung), outdoor
sports/activities (olahraga alam bebas: berkemah, gantole, menelusuri gua ,
masuk hutan, menyususri gua, dan semestinya).Di Indonesia, Pecinta Alam adalah
pendaki gunung, penulusuran gua, pengarungan sungai, pemanjat tebing dan
sekaligus pecinta lingkungan. Hingga saat ini baru sedikit kelompok yang
mengkhususkan aktivitasnya pada salah satu bidang saja. Oleh karena itu,
mungkin akan lebih tepat bila dikatakan bahwa Pecinta Alam adalah orang-orang
yang menCINTAI ALAM beserta segala isinya, dan yang menCINTAI petualangan alam
bebas.
AKTIVITAS PECINTA ALAM (DI
INDONESIA)
1. Take
nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]
2. Kill
nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]
3. Leave
nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki] dan
senantiasa ;
a.
Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
b.
Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan
penggiat dan peralatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi
bahwa diri kita sendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan
menjaga, memelihara dan melindunginya
c.
Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita
mampu melakukan segala sesuatunya dengan baik.
Sejarah Pencinta Alam Serta
Perkembangannya
Apabila sejenak kita merunut dari belakang, sebetulnya
sejarah manusia tidak jauh-jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah dimana
manusia berburu dan mengumpulkan makanan, alam adalah “rumah” mereka. Gunung
adalah sandaran kepala,padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh,
dan gua-gua adalah tempat mereka bersembunyi. Namun sejak manusia
menemukan kebudayaan, yang katanya lebih “bermartabat”, alam seakan menjadi
barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuk tempatnya bersembunyi. Manusia
menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan tubuh, dan manusia mendirikan
gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya. Manusia dan alam akhirnya
memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Ketika keduanya bersatu kembali, maka
ketika itulah saatnya Sejarah Pecinta Alam dimulai :
Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah
pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m),
dikawasan Vercors Massif. Saat itu belum jelas apakah mereka ini tergolong
pendaki gunung pertama. Namun beberapa dekade kemudian, orang-orang yang
naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois,
sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itu pemburu yang mendaki gunung. Tapi
inilah pendakian gunung yang tertua pernah dicatat dalam sejarah. Di
Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz
menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di
Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di
gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak
gunung tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m)
di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan.
Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet.
Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir
Edmund Hillary dari. Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang
tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itu, pendakian ke atap-atap
dunia pun semakin ramai.
Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah
perkumpulan yaitu “Perkumpulan Pentjinta Alam”(PPA). Berdiri 18 Oktober
1953. PPA merupakan perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu
kegemaran positif serta suci,terlepas dari ‘sifat maniak’yang semata-mata
melepaskan nafsunya dalam corak negatif.
Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi
rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat
umumnya. Sayang perkumpulanini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain
faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga
akhirnya PPA bubar di akhir tahun 1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan
pencinta alam pertama di tanah air mengusulkan istilah pencinta alam karena
cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna
eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi. “Bukankah kita
dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?.” Sejarah pencinta alam kampus
pada era tahun 1960-an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa
dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan
Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan
Kampus (NKK). Gagasan ini mula – mula dikemukakan Soe Hok Gie pada suatu sore,
8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan
kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan
Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan
oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak
gunung Pangrango.
Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam
Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa
saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi
yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Pada
pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, didepan
ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu Herman O. Lantang yang pada saat itu
menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama
organisasi yang akan lahir itu IMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa
Pencinta Alam. Setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang
Mahalum, yaitu Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata
menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama
IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Nama
ini diberikan oleh Bpk Moendardjito. Mapala merupakan singkatan dari Mahasiswa
Pencinta Alam. Dan Prajnaparamita berarti dewi pengetahuan. Selain itu Mapala
juga berarti berbuah atau berhasil. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan
segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil
berkat lindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang
didasari dari faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya,
dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan
organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya
mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi.
Dalam
tulisannya di Bara Eka 13 Maret 1966, Soe mengatakan bahwa :
“Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di
kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah
air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak
percaya bahwa patriotisme itu masih ada yang lebih berwenang untuk menentukan
hidup dan mati seseorang.MAPALA, Pencinta alam atau Petualang ? Dua nama,
pencinta alam dan petualang seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak
bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak
ada hubungan satu sama lainnya. Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang
sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari
pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsb.
Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki
arah dan tujuan yang berbeda, meskipun ruang gerak aktivitas yang dipergunakan
keduanya sama, alam. Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup “istilah”
saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih
populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang
lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas Adventure-nya seperti
pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi
kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.
Kini yang
sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah, dimanakah
pencinta alam? begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai
medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas “mereka” berakhir dengan terjadinya
tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam,
misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di
kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun
bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka. keberadaaan mereka belum mencirikan
kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan
kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka
cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret
oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu
dicitrakan, dengan demikian banyak diantara para “pencinta alam” itu cuma
sebatas “gaya” yang menggunakan alam sebagai alat.
I. PENDAHULUAN
Kegiatan
Alam Terbuka (KAT) adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan di lokasi yang masih
alami baik berupa hutan, perbukitan, pantai dll. Kegiatan di alam terbuka saat
ini banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif wisata,
kegiatan pendidikan dan bahkan penelitian. Selain untuk tujuan-tujuan tersebut,
kegiatan ini juga bermanfaat untuk mengenal Kebesaran Illahi melalui keajaiban
alam yang merupakan ciptaan-Nya berupa berbagai keneragaman hayati yang sangat
beraneka ragam yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Namun dalam
pelaksanaanya, kegiatan ini ternyata memiliki resiko yang cukup tinggi. Karena
tidak seperti kegiatan wisata lainnya yang didukung oleh fasilitas yang
menunjang keselamatan pelaku atau pengunjung, Kegiatan Alam Terbuka justru
sangat rentan terjadinya kecelakaan karena memang kegiatan ini dilaksanakan
ditempat yang masih alami seperti kondisi perbukitan terjal, jurang, aliran
sungai yang deras, dan kondisi alam lainnya yang berpotensi menimbulkan bahaya
dan juga mempersulit upaya penyelamatan bagi korban atau penderita. Meskipun
bukan suatu hal yang diharapkan, kecelakaan (accident) memerlukan
langkah antisipatif yang diantaranya dengan mengetahui atau mendiagnosa
penyakit maupun akibat kecelakaan, penanganan terhadap korban dan evakuasi
korban bila diperlukan. Hal ini memerlukan pengetahuan agar korban tidak
mengalami resiko cidera yang lebih besar.
II. DEFINISI
Pertolongan
Pertama (PP) adalah perawatan pertama yang diberikan kepada orang yang mendapat
kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba datang sebelum mendapatkan pertolongan
dari tenaga medis. Ini berarti:
1. Pertolongan
Pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda.
2. Pertolongan
Pertama harus tepat sehingga akan meringankan sakit korban bukan menambah sakit
korban.
MATERI PECINTA ALAM
All Materi Pecinta Alam
MOUNTAINEERING
I. PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN
Aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini
nampaknya bukan lagi merupakan suatu kegiatan yang langka, artinya tidak lagi
hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang menamakan diri sebagai kelompok Pencinta
Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya).
Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang
dari kalangan umum. Namun demikian bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa
segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang
ketrampilan yang mudah dan tidak memiliki
dasar pengetahuan teoritis. Didalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa : aturan-aturan pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang baik, untuk mendaki gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam bidang Mountaineering.
dasar pengetahuan teoritis. Didalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa : aturan-aturan pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang baik, untuk mendaki gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam bidang Mountaineering.
Mendaki gunung dalam
pengertian Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan,
yaitu :
1.
Berjalan (Hill Walking) Secara khusus
kegiatan ini disebut mendaki gunung. Hill Walking adalah kegiatan yang paling
banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang hanya
memungkinkan berkembangnya tahap ini. Disini aspek yang lebih menonjol adalah
daya tarik dari alam yang dijelajahi (nature interested)
2.
Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun kegiatan ini
terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia tetap merupakan
cabang darinya. Perkembangan yang pesat telah melahirkan banyak metode-metode
pemanjatan tebing yang ternyata perlu untuk diperdalam secara khusus. Namun
prinsipnya dengan tiga titik dan berat dan kaki yang berhenti, tangan hanya
memberi pertolongan.
3.
Mendaki gunung es (Ice & Snow
Climbing)
Kedua jenis kegiatan ini
dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah cara-cara pendakian
tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik pendakian tebing
gunung salju. Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu didalamnya telah
mencakup : Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan dan peta, PPPK
pegunungan, teknikteknik
Rock Climbing dan lain-lain.
II. PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG
1.
Pengenalan Medan
Untuk menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harus
menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas
serta altimeter. Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk
mengetahui medan yang akan dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang
yang pernah mendaki gunung tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut
sertakan orang yang pernah mendaki gunung tersebut bersama kita.
2.
Persiapan Fisik
Persiapan fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup tenaga aerobic dan
kelenturan otot. Kesegaran jasmani akan mempengaruhi transport oksigen melelui
peredaran darah ke otot-otot badan, dan ini penting karena semakin tinggi suatu
daerah semakin rendah kadar oksigennya.
3.
Persiapan Tim
Menentukan anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya dan
merencanakan semua yang berkaitan dengan pendakian.
4.
Perbekalan dan Peralatan
Persiapan perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri.
Perlengkapan mendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini
merupakan pelindung keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung merupakan
lingkungan yang asing bagi organ
tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang lebih rendah. Karena itu
diperlukan perlengkapan yang memadai agar pendaki mampu menyesuaikan di
ketinggian yang baru itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda, perlengkapan
tidur, perlengkapan masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
III. BAHAYA DI GUNUNG
Dalam olahraga mendaki
gunung ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu pendakian.
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak
dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu arena persiapan yang kurang baik, baik
persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan mental.
2. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek
pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini
dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan
faktor intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan
hati untuk pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta
keterbatasanketerbatasan pada diri kita sendiri.
IV. LANGKAH-LANGKAH DAN PROSEDUR
PENDAKIAN
Umumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta
alam dalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu :
1. Persiapan
Yang dimaksud persiapan
pendakian gunung adalah :
•
Menentukan pengurus panitia pendakian,
yang akan bekerja mengurus :Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya,
penentuan jadwal pendakian, persiapan perlengkapan/transportasi dan segala
macam urusan lainnya yang berkaitan dengan pendakian.
•
Persiapan fisik dan mental anggota
pendaki, ini biasanya dilakukan dengan berolahraga secara rutin untuk
mengoptimalkan kondisi fisik serta memeksimalkan ketahanan nafas. Persiapan
mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang
tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-cara pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan
membawa guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah
mendaki gunung tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca
jalur pendakian. Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu :
·
Kelompok pelopor
·
Kelompok inti
·
Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan
(penanggungjawab koordinasi). Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang
tersedia di setiap base camp pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau
juru kunci gunung tersebut. Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap
yaitu : Pelopor di depan (disertai guide), kelompok initi di tengah, dan team
penyapu di belakang. Jangan sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang
melanggar peraturan ini. Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan
tetap. Setelah tiba di puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah
peserta, siapa tahu ada yang tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan,
karena dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita
lakukan. Ini menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
V. FISIOLOGI TUBUH DI PEGUNUNGAN
Mendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dan
segala konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisi
lingkungan pun jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang perubahannya tampak
jelas bila dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara.
Semakin bertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen
udara juga semakin berkurang. Fenomena alam seperti ini beserta konsekuensinya
terhadap keselamatan jiwa kita, itulah yang teramat penting kita ketahui dalam
mempelajari proses fisiologi tubuh di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan
terjadi di pegunungan akibat kurang pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang
lengkapnya sarana penyelamat.
1. Konsekuensi Penurunan Suhu
Manusia termasuk organisme berdarah panas (poikiloterm), dengan demikian
manusia memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi
suhu tubuh terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu
ekstrim dapat membahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah,
maka tubuh akan terangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan
suhu tubuh internal (mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi peningkatan
metabolisme kita perlu banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang
menjadi sumber energi dan tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
2. Konsekuensi Penurunan Jumlah Oksigen
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital
untuk menjamin kelangsungan proses-proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam
tubuh biasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari
konsentrasi haemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah darah merah dan
konsentrasi Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh
karena itu untuk mengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu
mengadakan latihan aerobic, karena disamping memperlancar peredaran darah,
latihan ini juga merangsang memacu sintesis sel-sel darah merah.
3. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpenting
yang ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system kardiovaskulare dan neuromusculare.
Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalami hal-hal yang
kurang enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan oksigen), ini disebut
penyakit gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja fisik akan menurun secara
menyolok pada ketinggian 2000 meter, sementara kapasitas kerja aerobic akan
menurun (dengan membawa beban 15 Kg) dan juga derajat aklimasi tubuh akan
lambat. Mountain sickness ditandai dengan timbulnya gejala-gejala :
•
Merasakan sakit kepala atau pusing-pusing
•
Sukar atau tidak dapat tidur
•
Kehilangan control emosi atau lekas marah
•
Bernafas agak berat/susah
•
Sering terjadi penyimpangan
interpretasi/keinginannya aneh-aneh, bersikap semaunya dan bisa mengarah
kepenyimpangan mental.
•
Biasanya terasa mual bahkan kadang-kadang
sampai muntah, bila ini terjadi maka orang ini harus segera ditolong dengan
memberi makanan/minuman untuk mencegah kekosongan perut.
•
Gejala-gejala ini biasanya akan lebih
parah di pagi hari, dan akan mencapai puncaknya pada hari kedua.
Apabila diantara peserta pendakian mengalami gejala ini, maka perlu secara
dini ditangani/diberi obat penenang atau dicegah untuk naik lebih tinggi.
Bilamana sudah terlanjur parah dengan emosi dan kelakuan yang aneh-aneh serta
tidak peduli lagi nasehat (keras kepala), maka jalan terbaik adalah membuatnya
pingsan. Pada ketinggian lebih dari 3000 m.dpl, hipoksea cerebral dapat
menyebabkan kemampuan untuk mengambil keputusan dan penalarannya menurun. Dapat
pula timbul rasa percaya diri yang keliru, pengurangan ketajaman penglihtan dan
gangguan pada koordinasi gerak lengan dan kaki. Pada ketinggian 5000 m,
hipoksea semakin nyata dan pada ketinggian 6000 m kesadarannya dapat hilang
sama sekali.
4. Program Aerobik
Program/latihan ini merupakan dasar yang perlu mendapatkan kapasitas fisik
yang maksimum pada daerah ketinggian. Kapasitas kerja fisik seseorang berkaitan
dengan kelancaran transportasi oksigen dalam tubuh selai respirasi. Kebiasaan
melakukan latihan aerobic secara teratur, dapat menambah kelancaran peredaran
darah dalam tubuh, memperbanyak jumlah pembuluh darah yang mrmasuki jaringan,
memperbanyak sintesis darah merah, menambah kandungan jumlah haemoglobin darah
dan juga menjaga optimalisasi kerja jantung. Dengan terpenuhinya hal-hal
tersebut di atas, maka mekanisme pengiriman oksigen melalui pembuluh darah ke
selsel yang membutuhkan lebih terjamin. Untuk persiapan/latihan aerobic ini
biasanya harus diintensifkan selama dua bulan sebelumnya. Latihan yang teratur
ternyata juga dapat meningkatkan kekuatan (endurance) dan kelenturan
(fleksibility) otot, peningkatan kepercayaan diri (mental), keteguhan hati
serta kemauan yang keras. Didalam latihan diusahakan denyut nadi mencapai 80%
dari denyut nadi maksimal, biasanya baru tercapai setelah lari selama 20 menit.
Seorang yang dapat dikatakan tinggi kesegaran aerobiknya apabila ia dapat
menggunakan minimal oksigen per menit per Kg berat badan. Yang tentunya
disesuaikan dengan usia latihan kekuatan juga digunakan untuk menjaga daya
tahan yang maksimal, dan gerakan yang luwes. Ini biasanya dengan latihan beban,
Untuk baiknya dilakukan aerobic 25-50 menit setiap harinya.
VI. PENGETAHUAN DASAR BAGI MOUNTAINEER
1. Orientasi Medan
A. Menentukan arah perjalanan dan posisi
pada peta
•
Dengan dua titik di medan yang dapat
diidentifikasikan pada gambar di peta. Dengan menggunakan perhitungan
teknik/azimuth, tariklah garis pada kedua titik diidentifikasi tersebut di
dalam peta. Garis perpotongan satu titik yaitu posisi kita pada peta.
•
Bila diketahui satu titik identifikasi.
Ada beberapa cara yang dapat dicapai:
1.
Kalau kita berada di jalan setapak atau
sungai yang tertera pada peta, maka perpotongan garis yang ditarik dari titik
identifikasi dengan jalan setapak atau sungai adalah kedudukan kita.
2.
Menggunakan altimeter. Perpotongan antara
garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan kontur pada titik ketinggian
sesuai dengan angka pada altimeter adalah kedudukan kita.
3.
Dilakukan secara kira-kira saja. Apabila
kita sedang mendaki gunung, kemudian titik yang berhasil yang diperoleh adalah
puncaknya, maka tarik garis dari titik identifikasi itu, lalu perkirakanlah
berapa bagian dari gunung itu yang telah kita daki.
B. Menggunakan kompas
Untuk membaca peta sangat dibutuhkan banyak bermacam kompas yang dapat
dipakai dalam satu perjalanan atau pendakian, yaitu tipe silva, prisma dan
lensa.
C. Peta dalam perjalanan
Dengan mempelajari peta, kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan
dilalui atau dijelajahi. Penggunaan peta dan kompas memang ideal, tetapi sering
dalam praktek sangat sukar dalam menerapkannya di gunung-gunung di Indonesia.
Hutan yang sangat lebat atau kabut yang sangat tebal acap kali menyulitkan
orientasi. Penanggulangan dari kemungkinan ini seharusnya dimulai dari awal perjalanan,
yaitu dengan mengetahui dan mengenali secara teliti tempat pertama yang menjadi
awal perjalanan. Gerak yang teliti dan cermat sangat dibutuhkan dalam situasi
seperi di atas. Ada baiknya tanda alam sepanjang jalan yang kita lalui
diperhatikan dan dihafal, mungkin akan sangat bermanfaat kalau kita kehilangan
arah dan terpaksa kembali ketempat semula. Dari pengalaman terutama di hutan
dan di gunung tropis kepekaan terhadap lingkungan alam yang dilalui lebih
menentukan dari pada kita mengandalkan alat-alat seperti kompas tersebut. Hanya
sering dengan berlatih dan melakukan perjalanan kepekaan itu bisa diperoleh.
2. Membaca Keadaan Alam
A. Keadaan udara
•
Sinar merah pada waktu Matahari akan
terbenam. Sinar merah pada langit yang tidak berawan mengakibatkan esok harinya
cuaca baik. Sinar merah pada waktu Matahari terbit sering mengakibatkan hari
tetap bercuaca buruk.
•
Perbedaan yang besar antara temperature
siang hari dan malam hari. Apabila tidak angin gunung atau angin lembab atau
pagi-pagi berhembus angin panas, maka diramalkan adanya udara yang buruk. Hal
ini berlaku sebaliknya.
•
Awan putih berbentuk seperti bulu kambing.
Apabila awan ini hilang atau hanya lewat saja berarti cuaca baik. Sebaliknya
apabila awan ini berkelompok seperti selimut putih maka datanglah cuaca buruk.
B. Membaca sandi-sandi yang diterapkan di alam menggunakan bahan-bahan dari
alam, seperti :
–
Sandi dari batu yang dijejer atau ditumpuk
–
Sandi dari batang/ranting yang
dipatahkan/dibengkokkan
–
Sandi dari rumput/semak yang diikat
Tujuan dari penggunaan sandi-sandi ini apabila kita kehilangan arah dan
perlu kembali ke tempat semula atau pulang.
3. Tingkatan Pendakian gunung
Agar setiap orang mengetahui apakah lintasan yang akan ditempuhnya sulit
atau mudah, maka dalam olahraga mendaki gunung dibuat penggolongan tingkat
kesulitan setiap medan atau lintasan gunung. Penggolongan ini tergantung pada
karakter tebing atau gunungnya, temperamen dan penampilan fisik si pendaki,
cuaca, kuat dan rapuhnya batuan di tebing, dan macam-macam variabel lainnya.
–
Kelas 1 :
Berjalan. Tidak memerlukan peralatan dan teknik khusus.
–
Kelas 2 :
Merangkak (scrambling). Dianjurkan untuk memakai sepatu yang layak. Penggunaan
tangan mungkin diperlukan untuk membantu.
–
Kelas 3 :
Memanjat (climbing). Tali diperlukan bagi pendaki yang belum berpengalaman.
–
Kelas 4 :
Memanjat dengan tali dan belaying. Anchor untuk belaying mungkin diperlukan.
–
Kelas 5 :
Memanjat bebas dengan penggunaan tali belaying dan runner. Kelas ini dibagi
lagi menjadi 13 tingkatan.
–
Kelas 6 :
Pemanjatan artificial. Tali dan anchor digunakan untuk gerakan naik. Kelas ini
sering disebut kelas A. Selanjutnya dibagi dalam 5 tingkatan.
Ü MANAJEMEN PERJALANAN & PERALATAN
Perencanan perjalanan Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari
informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur-
literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau
dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita
tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa
saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.
Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan
secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama
kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu
dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta
prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara
teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai
dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain
(satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan
sebagainya. Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :
Mengenali kemampuan diri
dalam tim dalam
Ü Menghadapi medan.
Ü Mempelajari medan yang akan ditempuh.
Ü Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
Ü Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
Ü Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.
Perlengkapan dasar perjalanan
Ü Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi,
jas hujan, dll.
Ü Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
Ü Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
Ü Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper
/tissu, dll.
Ü Ransel / carrier.
Perlengkapan pembantu
Ü Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.Peta, busur
derajat, douglass protector, pengaris,
Ü Pensil dll.
Ü Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
Ü Jam tangan.
Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.
•
Kelompokkan barang barang sesuai dengan
jenis jenisnya.
•
Masukkan dalam kantong plastik.
•
Letakkan barang barang yang ringan dan
jarang penggunananya (mis :Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
•
Barang barang yang sering digunakan dan
vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
•
Tempatkan barang barang yang lebih berat
setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
•
Buat Checklist barang barang tersebut
Pedoman Perjalanan Alam Terbuka
Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan
penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H,
yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How. Berikut ini aplikasi
dari rumusan tersebut:
•
Where (Dimana), untuk melakukan suatu
kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, misalnya:
Tangkiling-Bukit Batu-Palangkaraya.
•
Who (Siapa), apakah anda akan melakukan
kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. contoh: satu kelompok
(25 personil) terdiri dari 5 orang anggota penuh (panitia) dan 20 orang siswa
DIKLAT (peserta)
•
Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang
cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam contoh : Untuk melakukan
DIKLATSAR.
•
When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan
tersebut, berapa lama ? contoh : 23 Februari 2005 sampai dengan 25 Februari
2005
Dari pertanyaan-pertanyaan 4 W, maka didapat suatu gambaran sebagai
berikut: pada tanggal 23-25 Februari 2007 akan diadakan DIKLAT, yang akan
dilaksanakan oleh 5 panitia dan diikuti 20 orang siswa DIKLAT. Tempat yang
digunakan untuk DIKLAT tersebut yaitu di Lompobattang-Bawakaraeng. Untuk How
[Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban
pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
•
Bagaimana kondisi lokasi
•
Bagaimana cuaca disana
•
Bagaimana perizinannya
•
Bagaimana mendapatkan air
•
Bagaimana pengaturan tugas panitia
•
Bagaimana acara akan berlangsung
•
Bagaimana materi yang disampaikan
•
dan masih banyak “bagaimana ?” lagi
(silahkan anda mengembangkannya lagi)
Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat
menyusun rencana gegiatan yang didalamnya mencakup rincian :
1.
Pemilihan medan, dengan memperhitungkan
lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
2.
Pengurusan perizinan
3.
Pembagian tugas panitia
4.
Persiapan kebutuhan acara
5.
Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6.
dan lain sebagainya.
Keberhasilan suatu
kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang
tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1.
Mengenal jenis medan yang akan dihadapi
(hutan, rawa, tebing, dll)
2.
Menentukan tujuan perjalanan
(penjelajahan, latihan, penelitian, SAR, dll)
3.
Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3
hari, seminggu, sebulan, dsb)
4.
Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik
untuk membawa beban
5.
Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya :
obat-obatan tertentu)
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan
perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi beratnya
tidak melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg), walaupun ada yang
mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg. Dari kegiatan penjelajahan,
ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
1.
Perjalanan pendakian gunung
2.
Perjalanan menempuh rimba
3.
Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan
rawa
4.
Perjalanan penelusuran gua
5.
Perjalanan pelayaran
Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan
berdasarkan jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita
dapat mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :
1. Perlengkapan dasar,
meliputi :
·
Perlengkapan dalam perjalanan /
pergerakkan
·
Perlengkapan untuk istirahat
·
Perlengkapan makan dan minum
·
Perlengkapan mandi
·
Perlengkapan pribadi
2. Perlengkapan khusus,
disesuaikan dengan perjalananan, misalnya
·
Perlengkapan penelitian (kamera, buku,
dll)
·
Perlengkapan penyusuran sungai (perahu,
dayung, pelampung, dll)
·
Perlengkapan pendakian tebing batu
(carabineer, tali, chock, dll)
·
Perlengkapan penelusuran gua (helm,
headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)
3. Perlengkapan tambahan
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan
(misalnya :semir, kelambu, gaiter, dll). Mengingat pentingnya penyusunan
perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan, sebaiknya
dibuatkan check-list terlebih dahulu. Perlengkapan dikelompokkan menurut
jenisnya, lalu periksa lagi mana yang perlu dibawa dan tidak. Apabila
perjalanan kita lakukan dengan berkelompok, maka check-list nya untuk
perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu yang
lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang dibawa
dari rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan mana saja
yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita. Yang tidak
kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya
yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut. Packing Sebelum melakukan
kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan
yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang
tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan
anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan. Prinsip dasar yang mutlak
dalam mempacking adalah :
1. Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa
beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya
pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah
mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki
tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda
menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian
teratas dan terdekat dengan punggung.
2. Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak
Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan
anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan
keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir
jurang, dan keadaan lainnya. Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
•
Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu
tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal :
alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.Maksimalkan tempat yang ada,
misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat
dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan
telur.Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai
pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping
carrier.
•
Hindarkan menggantungkan barang-barang
diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda
akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat
dipacking dalam carrier. Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda,
sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3
dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap
individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda
dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih
barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa
barang yang benar-benar perlu.
Memilih dan Menempatkan Barang
Dalam memilih barang yang akan
dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan
yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat
beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti
piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting
bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier. Matras ; Sebisa mungkin
matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat,
atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih
senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah
berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras
sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan
digunakan matrasnya sudah kotor.
Kantung Plastik ;
Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna
sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju
basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir
barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian,
makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin
memilih pakaian, makanan dsb.
Menyimpan Pakaian ;
Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu
bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian
tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung
tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.
Menyimpan Makanan ;
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus
dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena
monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda
untuk mencari makanan.
Menyimpan Korek Api Batangan ;
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar
korek api anda selalu kering.
Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada
saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di
pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.
Perlengkapan Pribadi Alam Bebas Outdoor activity atau kegiatan alam bebas
merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat.
Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat.
Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam
bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko
kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi
perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering
berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.
Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan
waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu
perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai. Salah satu “perisai diri” ketika
melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut
digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.
1. Tutup kepala/topi
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala.
Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga
dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah
topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet atau topi softball
tidak direkomendasikan. Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi,
maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat.
Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.
2. Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi
sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk
menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan
air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan
darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat.
Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan
terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.
3. Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau
tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan
yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan
nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian
biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun. Pilihan warna
untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok
agar bisa terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah
diidentifikasi dan dikenali. Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah
melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat
banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain
2 atau 3 buah.
4. Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan
dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan
karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain
dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek
memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik
bila menggunakan bahan dari parasut tipis. Selain celana panjang, jangan lupa
bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti.
5. Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket
digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau
hujan. Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke
pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala
[kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer).
Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool
atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini
teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman
dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah
mengeluarkan keringat mampu menahan
angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini
masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan
untuk kegiatan pendakian gunung es].
6. Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang
melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adalah dengan menggunakan
slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari
dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan
tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.
7. Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit
tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi
ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke
segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu
yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali.
Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki
dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi
dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bila
suatu saat basah.
8. Carrier
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi
juga tidak terlampau kecil, artinya mampu menampung perlengkapan dan peralatan
yang dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong
dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan.
Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang
gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya,
karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat
fatal.
9. Alat masak, makan dan mandi
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi.
Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat aktu
dan bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini
nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna.
Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan
pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus,
parafin, dll. Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai bekal perjalanan
[saat ini banyak tersedia model dan jenis phipless]. Perlengkapan mandi juga
sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan
tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube
agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang
tempat.
10. Obat-obatan dan Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan,
apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu seperti asma. Disamping
obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.
Perencanaan Perbekalan
Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu
hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
: Lamanya perjalanan yang akan dilakukan Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb) Sehubungan dengan
keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan
perjalanan:
a.
Cukup mengandung kalori dan mempunyai
komposisi gizi yang memadai.
b.
Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan
mudah menanganinya.
c.
Sebaiknya makanan yang siap saji atau
tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d.
Ringan, mudah didapat
e.
Murah
Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan
syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :
Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas
tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang
diperlukan. Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian
kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung
masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan). Perhitungan untuk vitamin
dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah
tablet vitamin dan mineral secukupnya.
Catatan :
Kandungan kalori :
–
hidrat arang 4 kal/gr
–
lemak 9 kal/gr
–
protein 4 kal/gr
Kalori paling cepat
didapat dari :
1.
Hidrat arang
2.
lemak
3.
protein
Kebutuhan kalori per 100
pounds berat badan (sekitar 45 kg)
1 Metabolisme basal 1100
kalori
2 Aktifitas tubuh :
Jalan Kaki 2 mil/jam 45 kal/jam
3 mil/jam 90 kal/jam
4 mil/jam 160 kal/jam
–
Memotong kayu/tebas
–
260 kal/jam
–
Makan
–
20 kal/jam
–
Duduk (diam)
–
20 kal/jam
–
Bongkar pasang ransel, buat camp
–
50 kal/jam
–
Menggigil
–
220 kal/jam
–
3 Aktifitas dinamis khusus = 6 – 8 % dari
1 dan 2
–
4 Total kalori yang dibutuhkan = 1 + 2 + 3
–
Jenis Bahan Makanan dan Macam Makanan
–
Sumber kalori dari hidrat arang tiap 100
gram
–
Beras giling 360 kal Nasi 178 kal
–
Havermout 390 kal Kentang 90 kal
–
Singkong 140 kal Macaroni 363 kal
–
Maizena 343 kal Roti 248 kal
–
Tape singkong 173 kal Gaplek 363 kal
–
Biskuit 458 kal Sagu 353 kal
–
Terigu 365 kal Ubi 123 kal
–
Gula pasir 364 kal Gula aren 368 kal
–
Madu 294 kal Coklat pahit 504 kal
–
Coklat manis 472 kal Coklat susu 381 kal
–
Sumber Protein (tiap 100 gram)
–
Tempe 119 kla
–
Kacang tanah rebus dengan kulit 360 kal
–
Telur ayam 162 kal
–
Telur bebek 189 kal
–
Sumber protein dan lemak (tiap 100 gram)
–
Corned 241 kal
–
Daging asap 191 kal
–
Dendeng 433 kal
–
Sardens 338 kal
–
Menu makanan satu hari :
–
Mie 1.5 gelas 335 kal
–
Susu kental manis ½ gelas 336 kal
–
Dodol ½ ons 200 kal
–
Coklat 1 ons 472 kal
–
Nasi 2 ons 360 kal
–
Roti 1 ons 248 kal
–
Biscuit 1 ons 458 kal
–
Corned ½ ons 120 kal
–
Dendeng 1 ons 433 kal
TOTAL 2962 kal
“Bila engkau tidak dapat menjadi beringin yang tegak diatas puncak bukit,
maka jadilah saja rumput, tetapi rumput yang tumbuh memperkuat tanggul. Bila
engkau tidak bisa menjadi jalan besar, maka jadilah saja jalan setapak, tetapi
jalan setapak yang menuju ke mata air. Tidak semuanya dapat menjadi nahkoda,
tentu harus ada kelasi. Sebaik-baiknya engkau adalah menjadi dirimu sendiri.”
Perjalanan ke alam terbuka pasti mengandung resiko. Tiap perjalanan
memiliki tingkat resiko dan bahaya yang bervariasi.bahaya dan resiko tersebut
dapat jauh diminimalisir dengan berbagai persiapan. Persiapan umum yang harus
dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:
1.
Membawa alat navigasi berupa peta lokasi
pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari
permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana
membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam
rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang
navigasi.
2.
Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat.
Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.
3.
Bawalah peralatan pendakian yang sesuai.
Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu
harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal),
senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.
4.
Hitunglah lama perjalanan untuk
menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan
bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu
terisi sepanjang perjalanan.
5.
Bawalah peralatan medis, seperti obat
merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.
6.
Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi
dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau
universitas-universitas.
7.
Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup
meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.
Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah
sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai
hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya
perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut
menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka
tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan. Risiko mendaki gunung
yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian,
karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan
sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap
dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari
sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalamanpengalaman yang menyenangkan
maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk selfesteem [kebanggaan
/kepercayaan diri]. Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan
individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif.
Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman,
yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki
gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya
self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki
gunung.
Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki
merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya,
sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan
self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam
pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan. Persiapan mendaki gunung
Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika,
pengetahuan dan ketrampilan.
• Kesiapan mental.
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun
akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.
• Kesiapan fisik.
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching
/perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah
perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari
pelanpelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu,
jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya
bisa saja situp, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan
tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.
• Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki
kawasan yang akan dituju.
• Kesiapan pengetahuan
dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu
bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC
[emergency medical care] praktis.
·
Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian
Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak
aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :
1.
Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava)
== seperti perisai
2.
Gunung berapi strato
3.
Gunung berapi maar ==
Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas vulkanisme terhenti,
yang tinggal hanya kawahnya saja. Macam dan tingkat pendakian gunung macam
pendakian, yaitu pendakian gunung bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya
mambutuhkan persiapan dan perlengkapan yang matang. Menurut Club
“Mountaineers”, Seatle Washington, dasar pembagian tingkat pendakian ada dua
cara.
1. Berdasar penggunaan
alat teknis yang dipakai ( class)
•
class 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan
•
class 2 ; dibutuhkan bantuan tangan
•
class 3 ; pendakian yang mudah memerlukan
kaki dan tangan dalam mendaki, tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
•
class 4 ; pendakian memerlukan tali
pengaman
•
class 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman
peralatan lain seperti : piton, runner, chocks dll
•
class 6 ; mandaki dengan tali dengan
peralatan bantuan sepenuhnya berpijakdiatas paku tebing, memenjat rantai sling
atau mengunakan stirupss.
Pendakian claass 4 masuk dalam katagori scrembling [Mendaki dengan cara
mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan
medan yang miring sampai 45 derajat] dan class 5 – 6 sudah dapat dikatagorikan
sebagai climbing [panjat]. Dimana class 5 merupakan free-climbing [Pemanjatan
dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya
sebagai pengaman saja ] dan class 6 adalah artificial climbing [Pemanjatan
dengan menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya
dipijak atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas
disebut rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and
ice climbing.
2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)
•
grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh
dalam beberapa jam
•
grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam
setengah hari
•
grade III, bagian yang sukar ditempuh
dalam sehari penuh
•
grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam
sehari penuh dan memerlukan bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
•
grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam
waktu 1,5-2,5 hari
•
grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam
waktu 2 hari atau lebih dan dengan banyak sekali kesulitan
3. Berdasarkan tingkat keamanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan
•
A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang
dan digunakan dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan pendaki
•
A2 ;aman, jikapun terjadi masalah, alat
masih dapat diandalkan untuk mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh
tidak sampai kedasar]
•
A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman
tetapi tidak dapat diandalkan untuk menjaga resiko jatuh, kecuali dengan
pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor yang tidak terlalu berbeban
tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan copot dan pendaki bisa
menerima akibat fatal
•
A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat
diharapkan untuk dapat menahan beban jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman
psykologis untuk menguatkan mental pendaki
4. Berdasarkan tingkat
kesulitan [difficult] medan pendakian
Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan
Yossemite Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal dari USA dan saat ini
banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena
itu YDS dimulai dengan grade 5 dan seterusnya. Pengkatagorian demikian biasanya
digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat
sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek]
Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana
misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade
selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi “aneh”
akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika
sebaliknya. YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10,
5.11, 5.12, 5.13 dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.
Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi
pegiatan pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan
pendakian pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu
diperkirakan kemampuan pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam
kemudian berkembangan
kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa. Bahkan
saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas,
seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan
pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d
atau 5.14 c
Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat
manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.Secara umum
grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :
•
5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip
[pegangan] sangat bisa digunakan oleh bagian tubuh yang ada untuk menambah
ketinggian
•
5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3
bertahan 1 mencari
•
5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3
bertahan 1 mencari, hanya saja perlu keseimbangan [balance] yang baik
•
5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip
dengan satu diantaranya sangat minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir
bisa dipastikan memiliki grade demikian.
•
5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan
yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil
di satu bagiannya atau paling tidak sama
•
5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2
tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian, itupun dengan grip yang
sangat minim.
• 5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat
jalur pendakian/pemanjatan
·
Makanan (logistik)
Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki,
selama pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram
protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya
hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya
beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta
menghabiskan banyak bahan bakar.
Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit. Hal
yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih
dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan
waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar,
buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat,
biskuit dan kismis. Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan
instan yang memiliki kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam
ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun
tidak banyak memakan tempat didalam ransel.
·
Peralatan lain
Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa
perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting.
Perlengkapan itu berupa obatobatan seperti pelester, obat merah, tisu basah dan
kering, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu
terkandang dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.
Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas /
kantong plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang
yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk
membawa kembali sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau
berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain megotori,
membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki
yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang
tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang-barang yang tercecer.
·
Jenis-Jenis Pendakian / Perjalanan
Olah raga mendaki gunung sebenarnya mempunyai tingkat dan kualifikasinya.
Seperti yang sering kita kenal dengan istilah mountaineering atau istilah
serupa lainnya. Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering
dapat dibagi sebagai berikut :
1. Hill Walking / Feel Walking
•
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang
relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis pendakian. Perjalanan ini
dapat memakan waktu sampai beberapa hari. Contohnya perjalanan ke Gunung Gede
atau Ceremai.
2. Scarmbling
•
Pendakian setahap demi setahap pada suatu
permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan hanya
untuk keseimbangan. Contohnya : pendakian di sekitar puncak Gunung Gede Jalur
Cibodas.
3. Climbing
•
Dikenal sebagai suatu perjalanan pendek,
yang umumnya tidak memakan waktu lebih dari 1 hari,hanya rekreasi ataupun
beberapa pendakian gunung yang praktis. Kegiatan pendakian yang membutuhkan
penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan.Bentuk climbing ada
2 macam :
a. Rock Climbing
– pendakian pada
tebing-tebing batau atau dinding karang. Jenis pendakian ini yang umumnya ada
di daerah tropis.
b. Snow and Ice Climbing
– Pendakian pada es dan
salju. Pada pendakian ini, peralatan-peralatan khusus sangat diperlukan,
seperti ice axe, ice screw, crampton, dll.
III. DASAR-DASAR PERTOLONGAN PERTAMA
Pertolongan
Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan
tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan
dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah
tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita
sembuh dari penyakit yang dialami. Pertolongan Pertama biasanya diberikan oleh
orang-orang disekitar korban yang diantaranya akan menghubungi petugas
kesehatan terdekat. Pertolongan ini harus diberikan secara cepat dan tepat
sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh bahkan
kematian. Namun sebelum kita memasuki pembahasan kearah penanggulangan
atau pengobatan terhadap luka, akan lebih baik kita berbicara dulu mengenai
pencegahan terhadap suatu kecelakaan (accident), terutama
dalam kegiatan di alam bebas. Selain itu harus kita garis bawahi bahwa situasi
dalam berkegiatan sering memerlukan bukan sekedar pengetahuan kita tentang
pengobatan, namun lebih kepada pemahaman kita akan prinsip-prinsip pertolongan
terhadap korban. Sekedar contoh, beberapa peralatan yang disebutkan dalam
materi ini kemungkinan tidak selalu ada pada setiap kegiatan, aka kita dituntut
kreatif dan mampu menguasai setiap keadaan.
a. Prinsip Dasar
Adapun prinsip-prinsip dasar dalam
menangani suatu keadaan darurat tersebut diantaranya:
1. Pastikan
Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang
berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong
korban, periksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya.
2. Pakailah
metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok
pahlawan. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat, manusia maupun sarana
pendukung lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang
dan dipahami oleh seluruh anggota.
3. Biasakan
membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan,
identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb. Catatan ini berguna bila
penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.
b. Sistematika Pertolongan Pertama
Secara umum
urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah :
1. Jangan Panik
Berlakulah
cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, korban-korban
yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan
diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi
masih mungkin untuk ditolong.
2. Jauhkan atau hindarkan korban
dari kecelakaan berikutnya.
Pentingnya
menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakan
ulang yang akan memperberat kondisi korban. Keuntungan lainnya adalah penolong
dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih mengkonsentrasikan
perhatiannya pada kondisi korban yang ditolongnya. Kerugian bila dilakukan
secara tergesa-gesa yaitu dapat membahayakan atau memperparah kondisi korban.
3. Perhatikan pernafasan dan denyut
jantung korban.
Bila pernafasan penderita berhenti
segera kerjakan pernafasan bantuan.
a. Pendarahan.
Pendarahan
yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5 menit.
Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat pendarahan
kuat-kuat kemudian ikatlah saputangan tadi dengan dasi, baju, ikat pinggang,
atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Kalau lokasi
luka memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh.
5.
Perhatikan tanda-tanda shock.
Korban-korban
ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh yang
lain. Apabila korban muntah-muntah dalm keadaan setengah sadar, baringankan
telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh yang lainnya. Cara
ini juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak
muntahan, darah, atau air dalam paru-parunya. Apabila penderita mengalami
cidera di dada dan penderita sesak nafas (tapi masih sadar) letakkan dalam
posisi setengah duduk.
6. Jangan
memindahkan korban secara terburu-buru.
Korban tidak
boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan
cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi
korban dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban hendak diusung terlebih
dahulu pendarahan harus dihentikan serta tulang-tulang yang patah dibidai.
Dalam mengusung korban usahakanlah supaya kepala korban tetap terlindung dan
perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat oleh kotoran atau
muntahan.
7. Segera
transportasikan korban ke sentral pengobatan.
Setelah
dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral
pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama
hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan
terapi. Serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis
yang berkompeten.
IV. KASUS-KASUS KECELAKAAN ATAU
GANGGUAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA
Berikut
adalah kasus-kasus kecelakaan atau gangguan yang sering terjadi dalam kegiatan
di alam terbuka berikut gejala dan penanganannya:
a. Pingsan
(Syncope/collapse) yaitu hilangnya kesadaran sementara karena otak
kekurangan O2, lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga,
dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), hiploglikemia, animea.
Gejala
·
Perasaan limbung
·
Pandangan berkunang-kunang
·
Telinga berdenging
·
Nafas tidak teratur
·
Muka pucat
·
Biji mata melebar
·
Lemas
·
Keringat dingin
·
Menguap berlebihan
·
Tak respon (beberapa menit)
·
Denyut nadi lambat
Penanganan
1. Baringkan
korban dalam posisi terlentang
2. Tinggikan
tungkai melebihi tinggi jantung
3. Longgarkan
pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan
4. Beri udara
segar
5. Periksa
kemungkinan cedera lain
6. Selimuti
korban
7. Korban
diistirahatkan beberapa saat
8. Bila tak
segera sadar >> periksa nafas dan nadi >> posisi stabil >>
Rujuk ke instansi kesehatan
b. Dehidrasi
yaitu suatu
keadaan dimana tubuh mengalami kekurangan cairan. Hal ini terjadi apabila
cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yang masuk. Keluarnya cairan ini
biasanya disertai dengan elektrolit (K, Na, Cl, Ca). Dehidrasi disebabkan
karena kurang minum dan disertai kehilangan cairan/banyak keringat karena udara
terlalu panas atau aktivitas yang terlalu berlebihan.
Gejala
dan tanda dehidrasi
Dehidrasi ringan
·
Defisit cairan 5% dari berat badan
·
Penderita merasa haus
·
Denyut nadi lebih dari 90x/menit
Dehidrasi sedang
·
Defisit cairan antara 5-10% dari berat badan
·
Nadi lebih dari 90x/menit
·
Nadi lemah
·
Sangat haus
Dehidrasi berat
·
Defisit cairan lebih dari 10% dari berat badan
·
Hipotensi
·
Mata cekung
·
Nadi sangat lemah, sampai tak terasa
·
Kejang-kejang
Penanganan
1. Mengganti
cairan yang hilang dan mengatasi shock
2. mengganti
elektrolit yang lemah
3. Mengenal dan
mengatasi komplikasi yang ada
4. Memberantas
penyebabnya
5. Rutinlah
minum jangan tunggu haus
c. Asma yaitu
penyempitan/gangguan saluran pernafasan.
Gejala
·
Sukar bicara tanpa berhenti, untuk menarik nafas
·
Terdengar suara nafas tambahan
·
Otot Bantu nafas terlihat menonjol (dileher)
·
Irama nafas tidak teratur
·
Terjadinya perubahan warna kulit
(merah/pucat/kebiruan/sianosis)
·
Kesadaran menurun (gelisah/meracau)
Penanganan
1. Tenangkan
korban
2. Bawa
ketempat yang luas dan sejuk
3. Posisikan ½
duduk
4. Atur nafas
5. Beri oksigen
(bantu) bila diperlukan
d. Pusing/Vertigo/Nyeri
Kepala yaitu sakit kepala yang disebabkan oleh kelelahan, kelaparan,
gangguan kesehatan dll.
Gejala
·
Kepala terasa nyeri/berdenyut
·
Kehilangan keseimbangan tubuh
·
Lemas
Penanganan
1. Istirahatkan
korban
2. Beri minuman
hangat
3. beri obat
bila perlu
4. Tangani
sesuai penyebab
e. Maag/Mual yaitu
gangguan lambung/saluran pencernaan.
Gejala
·
Perut terasa nyeri/mual
·
Berkeringat dingin
·
Lemas
Penanganan
1. Istirahatkan
korban dalam posisi duduk ataupun berbaring sesuai kondisi korban
2. Beri minuman
hangat (teh/kopi)
3. Jangan beri
makan terlalu cepat
f. Lemah jantung yaitu
nyeri jantung yang disebabkan oleh sirkulasi darah kejantung terganggu atau
terdapat kerusakan pada jantung.
Gejala
·
Nyeri di dada
·
Penderita memegangi dada sebelah kiri bawah dan
sedikit membungkuk
·
Kadang sampai tidak merespon terhadap suara
·
Denyut nadi tak teraba/lemah
·
Gangguan nafas
·
Mual, muntah, perasaan tidak enak di lambung
·
Kepala terasa ringan
·
Lemas
·
Kulit berubah pucat/kebiruan
·
Keringat berlebihan
Tidak semua nyeri pada dada adalah
sakit jantung. Hal itu bisa terjadi karena gangguan pencernaan,
stress, tegang.
Penanganan
1. Tenangkan
korban
2. Istirahatkan
3. Posisi ½
duduk
4. Buka jalan
pernafasan dan atur nafas
5. Longgarkan
pakaian dan barang barang yang mengikat pada badan
6. Jangan beri
makan/minum terlebih dahulu
7. Jangan
biarkan korban sendirian (harus ada orang lain didekatnya)
f. Histeria yaitu
sikap berlebih-lebihan yang dibuat-buat (berteriak, berguling-guling) oleh
korban; secara kejiwaan mencari perhatian.
Gejala
·
Seolah-olah hilang kesadaran
·
Sikapnya berlebihan (meraung-raung, berguling-guling
di tanah)
·
Tidak dapat bergerak/berjalan tanpa sebab yang jelas
Penanganan
1. Tenangkan
korban
2. Pisahkan
dari keramaian
3. Letakkan di
tempat yang tenang
4. Awasi
g. Mimisan yaitu
pecahnya pembuluh darah di dalam lubang hidung karena suhu ekstrim (terlalu
panas/terlalu dingin)/kelelahan/benturan.
Gejala
·
Dari lubang hidung keluar darah dan terasa nyeri
·
Korban sulit bernafas dengan hidung karena lubang
hidung tersumbat oleh darah
·
Kadang disertai pusing
Penanganan
1. Bawa korban
ke tempat sejuk/nyaman
2. Tenangkan
korban
3. Korban
diminta menunduk sambil menekan cuping hidung
4. Diminta
bernafas lewat mulut
5. Bersihkan
hidung luar dari darah
6. Buka setiap
5/10 menit. Jika masih keluar ulangi tindakan Pertolongan Pertama
h. Kram yaitu otot
yang mengejang/kontraksi berlebihan.
Gejala
·
Nyeri pada otot
·
Kadang disertai bengkak
Penanganan
1. Istirahatkan
2. Posisi
nyaman
3. Relaksasi
4. Pijat
berlawanan arah dengan kontraksi
i. Memar yaitu
pendarahan yang terdi di lapisan bawah kulit akibat dari benturan keras.
Gejala
·
Warna kebiruan/merah pada kulit
·
Nyeri jika di tekan
·
Kadang disertai bengkak
Penanganan
1. Kompres
dingin
2. Balut tekan
3. Tinggikan
bagian luka
J. Keseleo yaitu
pergeseran yang terjadi pada persendian biasanya disertai kram.
Gejala
·
Bengkak
·
Nyeri bila tekan
·
Kebiruan/merah pada derah luka
·
Sendi terkunci
·
Ada perubahan bentuk pada sendi
Penanganan
1. Korban
diposisikan nyaman
2. Kompres
es/dingin
3. Balut tekan
dengan ikatan 8 untuk mengurangi pergerakan
4. Tinggikan
bagian tubuh yang luka
k. Luka yaitu suatu
keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan/injury.
Gejala
·
Terbukanya kulit
·
Pendarahan
·
Rasa nyeri
Penanganan
1. Bersihkan
luka dengan antiseptic (alcohol/boorwater)
2. Tutup luka
dengan kasa steril/plester
3. Balut tekan
(jika pendarahannya besar)
4. Jika hanya
lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan luka
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menangani luka:
1. Ketika
memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:
·
Keluarkan tanpa menyinggung luka
·
Kasa/balut steril (jangan dengan kapas atau kain
berbulu)
·
Evakuasi korban ke pusat kesehatan
2. Bekuan
darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka ini berarti luka mulai
menutup. Bekuan tidak boleh dibuang, jika luka akan berdarah lagi.
l. Pendarahan yaitu
keluarnya darah dari saluran darah kapan saja, dimana saja, dan waktu apa saja.
Penghentian darah dengan cara
1. Tenaga/mekanik,
misal menekan, mengikat, menjahit dll
1. Fisika:
·
Bila dikompres dingin akan mengecil dan mengurangi
pendarahan
·
Bila dengan panas akan terjadinya penjedalan dan
mengurangi
1. Kimia:
Obat-obatan
2. Biokimia:
vitamin K
3. Elektrik:
diahermik
m. Patah
Tulang/fraktur yaitu rusaknya jaringan tulang, secara keseluruhan
maupun sebagian
Gejala
·
Perubahan bentuk
·
Nyeri bila ditekan dan kaku
·
Bengkak
·
Terdengar/terasa (korban) derikan tulang yang
retak/patah
·
Ada memar (jika tertutup)
·
Terjadi pendarahan (jika terbuka)
Jenisnya
·
Terbuka (terlihat jaringan luka)
·
Tertutup
Penanganan
1. Tenangkan
korban jika sadar
Untuk patah tulang tertutup
1. Periksa Gerakan
(apakah bagian tubuh yang luka bias digerakan/diangkat)
Sensasi (respon nyeri)
Sirkulasi (peredaran darah)
1. Ukur bidai
disisi yang sehat
2. Pasang kain
pengikat bidai melalui sela-sela tubuh bawah
3. Pasang
bantalan didaerah patah tulang
4. Pasang bidai
meliputi 2 sendi disamping luka
5. Ikat bidai
6. Periksa GSS
Untuk patah tulang terbuka
1.Buat pembalut cincin untuk
menstabilkan posisi tulang yang mencuat
2.Tutup tulang dengan kasa steril,
plastik, pembalut cincin
3.Ikat dengan ikatan V
4.Untuk selanjutnya ditangani seperti
pada patah tulang tertutup
Tujuan Pembidaian
1. Mencegah
pergeseran tulang yang patah
2. memberikan
istirahat pada anggota badan yang patah
3. mengurangi
rasa sakit
4. Mempercepat
penyembuhan
n. Luka Bakar yaitu
luka yangterjadi akibat sentuhan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan
panas (api, air panas, listrik, atau zat-zat yang bersifat membakar)
Penanganan
1. Matikan api
dengan memutuskan suplai oksigen
2. Perhatikan
keadaan umum penderita
3. Pendinginan
·
Membuka pakaian penderita/korban
·
Merendam dalam air atau air mengalir selama 20 atau 30
menit. Untuk daerah wajah, cukup dikompres air
1. Mencegah
infeksi
·
Luka ditutup dengan perban atau kain bersih kering
yang tak dapat melekat pada luka
·
Penderita dikerudungi kain putih
·
Luka jangan diberi zat yang tak larut dalam air
seperti mentega, kecap dll
2. Pemberian
sedative/morfin 10 mg im diberikan dalam 24 jam sampai 48 jam pertama
3. Bila luka
bakar luas penderita diKuasakan
4. Transportasi
kefasilitasan yang lebih lengkap sebaiknya dilakukan dalam satu jam bila tidak
memungkinkan masih bisa dilakukan dalam 24-48 jam pertama dengan pengawasan
ketat selama perjalanan.
5. Khusus untuk
luka bakar daerah wajah, posisi kepala harus lebih tinggi dari tubuh.
o. Hipotermia yaitu
suhu tubuh menurun karena lingkungan yang dingin
Gejala
·
Menggigil/gemetar
·
Perasaan melayang
·
Nafas cepat, nadi lambat
·
Pandangan terganggu
·
Reaksi manik mata terhadap rangsangan cahaya lambat
Penanganan
1. Bawa korban
ketempat hangat
2. Jaga jalan
nafas tetap lancar
3. Beri minuman
hangat dan selimut
4. Jaga agar
tetap sadar
5. Setelah keluar
dari ruangan, diminta banyak bergerak (jika masih kedinginan)
p. Keracunan makanan atau
minuman
Gejala
·
Mual, muntah
·
Keringat dingin
·
Wajah pucat/kebiruan
Penanganan
1. Bawa ke
tempat teduh dan segar
2. Korban
diminta muntah
3. Diberi norit
4. Istirahatkan
5. Jangan
diberi air minum sampai kondisinya lebih baik
q. Gigitan binatang gigitan
binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang tersebut untuk
mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang mengancam keselamatan
jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis; yang berbisa (beracun) dan
yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang
lebih besar daripada luka biasa.
Pertolongan Pertamanya adalah:
·
Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan
sedikit antiseptik
·
Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut
Ada beberapa jenis binatang yang
sering menimbulkan ganguan saat melakukan kegiatan di alam terbuka,
diantaranya:
1. Gigitan Ular
Tidak semua ular berbisa, akan
tetapi hidup penderita/korban tergantung pada ketepatan diagnosa, maka pad
keadaan yang meragukan ambillah sikap menganggap ular tersebut berbisa. Sifat
bisa/racun ular terbagi menjadi 3, yaitu:
1. Hematotoksin
(keracunan dalam)
2. Neurotoksin
(bisa/racun menyerang sistem saraf)
3. Histaminik
(bisa menyebabkan alergi pada korban)
Nyeri yang sangat dan pembengkakan
dapat timbul pada gigitan, penderita dapat pingsan, sukar bernafas dan mungkin
disertai muntah. Sikap penolong yaitu menenangkan penderita adalah sangat
penting karena rata-rata penderita biasanya takut mati.
Penanganan untuk Pertolongan Pertama:
1. Telentangkan
atau baringkan penderita dengan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung.
2. Tenangkan
penderita, agar penjalaran bisa ular tidak semakin cepat
3. Cegah
penyebaran bias penderita dari daerah gigitan
·
Torniquet di bagian proximal daerah
gigitan pembengkakan untuk membendung sebagian aliran limfa dan vena, tetapi
tidak menghalangi aliran arteri. Torniquet / toniket
dikendorkan setiap 15 menit selama + 30 detik
·
Letakkan daerah gigitan dari tubuh
·
Berikan kompres es
·
Usahakan penderita setenang mungkin bila perlu
diberikan petidine 50 mg/im untuk menghilangkan rasa nyeri
4. Perawatan
luka
·
Hindari kontak luka dengan larutan asam Kmn 04, yodium
atau benda panas
·
Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan kedalam
lukanya, bila perlu pengeluaran ini dibantu dengan pengisapan melalui breastpump
sprit atau dengan isapan mulut sebab bisa ular tidak berbahaya bila
ditelan (selama tidak ada luka di mulut).
5. Bila
memungkinkan, berikan suntikan anti bisa (antifenin)
6. Perbaikan
sirkulasi darah
·
Kopi pahit pekat
·
Kafein nabenzoat 0,5 gr im/iv
·
Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor
7. Obat-obatan
lain
·
Ats
·
Toksoid tetanus 1 ml
·
Antibiotic misalnya: PS 4:1
2. Gigitan Lipan
Ciri-ciri
1. Ada sepasang
luka bekas gigitan
2. Sekitar luka
bengkak, rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya hilang dengan sendirinya
setelah 4-5 jam
Penanganan
1. Kompres
dengan yang dingin dan cuci dengan obat antiseptik
2. Beri obat
pelawan rasa sakit, bila gelisah bawa ke paramedik
3. Gigitan Lintah dan Pacet
Ciri-ciri
1. Pembengkakan,
gatal dan kemerah-merahan (lintah)
Penanganan
1. Lepaskan
lintah/pacet dengan bantuan air tembakau/air garam
2. Bila ada
tanda-tanda reaksi kepekaan, gosok dengan obat atau salep anti gatal
4. Sengatan Lebah/Tawon dan Hewan Penyengat
lainnya
Biasanya
sengatan ini kurang berbahaya walaupun bengkak, memerah, dan gatal. Namun
beberapa sengatan pada waktu yang sama dapat memasukkan racun dalam tubuh
korban yang sangat menyakiti.
Perhatian:
·
Dalam hal sengatan lebah, pertama cabutlah
sengat-sengat itu tapi jangan menggunakan kuku atau pinset, Anda justru akan
lebih banyak memasukkan racun kedalam tubuh. Cobalah mengorek sengat itu dengan
mata pisau bersih atau dengan mendorongnya ke arah samping
·
Balutlah bagian yang tersengat dan basahi dengan
larutan garam inggris.
V. EVAKUASI KORBAN
Adalah salah satu tahapan dalam
Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yng aman dan
nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut.
Prinsip Evakuasi
1.
1. Dilakukan jika
mutlak perlu
2. Menggunakan
teknik yang baik dan benar
3. Penolong
harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat
untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian
Alat Pengangutan
Dalam melaksanakan proses evakusi
korban ada beberapa cara atau alat bantu, namun hal tersebut sangat tergantung
pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi korban ketersediaan alat). Ada dua
macam alat pengangkutan, yaitu:
1. Manusia
Manusia
sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pengangkut mempengaruhi cara
angkut yang dilaksanakan.
Bila satu orang maka penderita
dapat:
·
Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak
·
Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu berat
serta tidak patah tulang
·
Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas
·
Dipanggul/digendong
·
Merayap posisi miring
Bila dua orang maka penderita dapat:
Maka
pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diterapkan bila korban
tak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah
tulang leher atau tulang punggung.
·
Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan
·
Model membawa balok
·
Model membawa kereta
2. Alat bantu
·
Tandu permanen
·
Tandu darurat
·
Kain keras/ponco/jaket lengan panjang
·
Tali/webbing
Persiapan
Yang perlu diperhatikan:
1.
Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak
berdasarkan penilaian kondisi dari: keadaan respirasi, pendarahan, luka, patah
tulang dan gangguan persendian
2.
Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama
proses evakuasi
3.
Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan tempat
akhir korban diangkut
4.
Memilih alat
5.
Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang
berjuntai atau badan penderita yang tidak daolam posisi benar
VI. FARMAKOLOGI
Farmakologi adalah pengetahuan
mengenai obat-obatan. Yang dibahas disini hanya sekedar obat-obatan standar
yang sering dibutuhkan dalam Kegiatan Alam Terbuka.
NO
|
Nama Obat
|
Kegunaan
|
1
|
CTM
|
Alergi, obat tidur
|
2
|
Betadine
|
Antiseptik
|
3
|
Povidone Iodine
|
Antiseptik
|
4
|
Neo Napacyne
|
Asma, sesak nafas
|
5
|
Asma soho
|
Asma,sesak nafas
|
6
|
Konidin
|
Batuk
|
7
|
Oralit
|
Dehidrasi
|
8
|
Entrostop
|
Diare
|
9
|
Demacolin
|
Flu, batuk
|
10
|
Norit
|
Keracunan
|
11
|
Antasida doen
|
Maag
|
12
|
Gestamag
|
Maag
|
13
|
Kina
|
Malaria
|
14
|
Oxycan
|
Memberi tambahan oksigen murni
|
15
|
Damaben
|
Mual
|
16
|
Feminax
|
Nyeri haid
|
17
|
Spasmal
|
Nyeri haid
|
18
|
Counterpain
|
Pegal linu
|
19
|
Alkohol 70%
|
Pembersih luka/antiseptic
|
20
|
Rivanol
|
Pembersih luka/antiseptic
|
21
|
Chloroetil (obat semprot luar)
|
Pengurang rasa sakit
|
22
|
Pendix
|
Pengurang rasa sakit
|
23
|
Antalgin
|
Pengurang rasa sakit, pusing
|
24
|
Paracetamol
|
Penurun panas
|
25
|
Papaverin
|
Sakit perut
|
26
|
Vitamin C
|
Sariawan
|
27
|
Dexametason
|
Sesak nafas
|
VII. PENUTUP
Pertolongan
Pertama adalah sebagai suatu tindakan antisipatif dalam keadaan darurat namun
memiliki dampak yang sangat besar bagi penderita atau korban. Kesalahan
diagnosa dan penanganan dapat mendatangkan bahaya yang lebih besar, cacat
bahkan kematian. Satu hal yang perlu diingat adalah Pertolongan Pertama
merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan
tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban
mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan
Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa
penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Serahkan
penanganan selanjutnya (bila diperlukan) pada dokter atau tenaga medis yang
berkompeten.